Rabu, 14 Oktober 2015

RANGKUMAN

- Muhammad al 'Alqami
Penghianat di zaman khalifah al musta'shim yang menyebabkan runtuhnya bani abbasiyah. Dia adalah rafidhi.

Senin, 14 September 2015

KASIH SAYANGMU IBU (bag 2)

Kasihnya Tak Sekedar Kata

ووصينا الإنسان بواليه إحسانا حملته أمه كرها ووضعته كرها وحمله وفصاله ثلاثون شهرا

"Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan…" (al-Ahqof: 15)

Di kala bayinya menangis, sang ibu lalu menggendong sambil membelai rambut dan menimang-nimangnya, hingga si buah hati pun lelap tertidur. Dengan perlahan ia meletakkan si kecil ke tempat ayunannya.

Di kala sang ibu sedang menyuapi anaknnya makan, ia sisihkan antara daging dan tulang lauknya. Sambil bercerita ia berkata kepada anaknya, “Makan yang banyak ya!” lalu sang anak berkata kepada ibunya, “Ibu kok belum makan?” Ibunya berkata, “Ibu makannya nanti saja, belum selera makan.”

Di kala si buah hati demam, dia tidak mau ditinggal ibunya. maka, dengan letih sang ibu menyuci dan memasak sambil menggendong bayinya.

Di kala sang anak sakit ibunya berkata, “Kalau sudah sembuh, Adik mau minta apa?” Anaknya menjawab, “Aku minta dibelikan mainan mobil-mobilan, minta dibelikan baju baru, minta dibelikan kue.” Kata sang ibu, “Terus minta apa lagi?” Sang anak menjawab, “Aku juga minta diajak jalan-jalan sama Ayah, sama Ibu, sama Kakak.” Ibunya berkata, “Oya… nanti insya Allah kalau Adik sudah sembuh. Makanya makan yang banyak supaya cepat sembuh ya sayang!”

Di kala sang anak sudah mulai dewasa dan hendak mencari pekerjaan, sang ibu berkata kepada anaknya, “Ambillah simpanan uang Ibu! Sengaja Ibu tabung untuk modal usahamu.”

Di kala sang anak sudah mendapat pekerjaan ia ingin berbelanja untuk ibunya. Sang ibu berkata, “Kau tabungkan saja uangmu buat bekalmu nanti kalau sudah berkeluarga! Di rumah masih ada beras, insya Allah masih cukup untuk makan sepekan.”

Di kala sang anak sudah menikah dan belum punya rumah, ibu berkata, “Tinggallah dulu di rumah tua sama Ibu. Nanti kalau sudah punya rumah sendiri baru kalian pindah.”

Di kala anak punya rumah baru, ia ingin mengajak ibunya agar bersedia pindah ke rumah baru. Namun, Ibu berkata, “ Biar Ibu tinggal di rumah tua saja. Itu adalah rumah peninggalan Ayahmu.”

Sering ibu menangis tatkala rindu dengan anak dan cucu-cucunya. Rasa ingin bertemu dan berkumpul sekeluarga menjadi impian yang senantiasa dinanti-nanti. Ia menyadari bahwa usia sudah tua, rambut sudah memutih. Entah berapa tahun lagi sisa usianya.

Di kala ibu sudah sakit berat, anaknya datang menjenguk. Dipeluknya sang ibu sambil menangis. Ibunyapun lalu berkata, “ Jangan menangis Nak!. Jika Ibumu sudah makin melemah, hubungi semua kerabat kita. Ibu juga berpesan kepadamu, jika Ibu telah meninggal jaga baik-baik Istri dan anak-anakmu! Jangan sering ribut!. Doa’akan selalu Ibu dan Ayahmu di setiap sholatmu.”

Tiga pekan pertama sepeninggal ibu, dunia terasa sepi. Dahulu ibu sering menelpon jika sudah lewat tiga pekan anak dan cucunya tidak berkunjung. Sekarang tiada lagi suara yang lembut itu. Namun, senyuman ibu masih juga terbayang di pelupuk mata. Jazakillahu khoiron Ibu…..semoga Allah mengumpulkan kita lagi di jannahnya kelak.

Sungguh dia adalah seorang pahlawan sejati. Dialah pahlawan tanpa tanda jasa. Sosok pahlawan yang berjuang tulus sepenuh hati, meskipun tak pernah mengikrarkan janji. Semangat di hati tak hiraukan jauhnya bentangan hari-hari. Kasih sayang ibu takkan pudar seiring zaman. Ia senantiasa merawat sang buah hati dengan tabah dan sabar. Hatinya lembut bagaikan kapas, namun himmahnya keras bagaikan besi.

Oleh:
Abu Dawud al Pasimiy

Minggu, 13 September 2015

KASIH SAYANGMU IBU (bag 1)

Oleh : Abu Dawud Al-Pasimiy

Sekapur sirih

Berjasa bukan karena gagah bukan pula karena lincah, namun justru karena kelembutan dan kasih sayang yang tulus menjadikan harum namanya. Itulah sosok seorang ibu. Serumpun huruf yang telah mendarah daging dalam kehidupan setiap insan bahkan telah menjadi kata seru dalam keseharian seorang anak di kala ia menangis dan berteriak mengadu. Perjuangannya tak mampu diganti dengan gemilang emas, tak juga mampu dibayar dengan intan berlian. Setahun kurang tiga bulan ia merawat sang bayi dalam kandungan. Payah dan letih iapun terus menghibur diri untuk tetap bertahan, hingga tibalah hari yang dinanti bersua dengan belahan hati tercinta.

Tangisan si jabang bayi terlintas dari sebuah kamar bersalin……
Memecah kesunyian dini hari yang berkabut embun dingin…….
Itulah tangisan pertamamu sebagai pengawal kehidupan di alam dunia…
Tampak sang ibu mendekap lemah sang bayi tercinta…..
Dielus lembut dengan kasih sayang penuh bahagia……..
Keringat di pipi berpadu dengan air mata…..
Selamat datang anakku sayang…..
Lekaslah engkau besar….
Do’a ibumu selalu tercurah di setiap nafasmu….
Semoga kelak engkau menjadi anak yang taat kepada Robbmu…..
Berbakti selalu kepada kedua orang tuamu…..
Tidak boleh nakal ya sayang….!

Demikian salah satu gambaran suasana hari pertama detak jantung umat manusia tatkala dilahirkan oleh sang ibu. Tubuh yang lunak itu hanya terlentang berbalut jarit. Tiada daya dan kekuatan apapun untuk berkehendak sesuatu. Sekecil apapapun bahaya yang datang tak mampu dia tepis walaupun hanya sekedar semut yang berjalan di pipi. Lisan tak mampu berbicara. Mata tak mampu melihat. Hanya tangis yang bisa diperbuat sebagai ungkapan dari semua isyarat. Lembut dan lunak tubuhmu membuat ayahmu seolah tak tega memelukmu.

Perjuangan sang ibu pun terus berlanjut. Tatkala si kecil menangis di malam hari, sang ibu terbangun kemudian memeriksa apa gerangan yang membuat sang buah hati tak nyaman. Terkadang karena lapar, terkadang karena pipis, kepanasan ataupun yang lainnya. Sungguh peran ibu bagaikan sang pelayan raja yang tak kenal waktu untuk beristirahat hingga sang anak tumbuh dewasa.

Namun semua itu dijalaninya dengan sabar dan ikhlas. Bukan dalam rangka mengaharap imbalan dari sang anak kelak di kemudian hari. Bukan pula karena riya’ agar supaya dikenal sebagai orang tua yang penyayang. Asa hanya diharapkan dari Allah. Semoga kelak sang anak bisa menjadi amal jariyah bagi dirinya sepeninggal ruh di kandung badan, hingga akhirnya sang anak menjadi syafaat baginya di hari yang tiada syafaat kecuali syafaat dari orang-orang yang diridhoi oleh Allah Tabaroka Wata’ala.

Mudah-mudah apa yang kami uraikan ini dan seterusnya bisa memberikan manfaat bagi kami secara pribadi dan bagi segenap kaum muslimin secara umum, amin.